Pemantauan
Pasien yang ditata laksana di rumah atau dirawat di rumah sakit tanpa tanda peringatan harus dipantau setiap hari hingga keluar dari fase kritis. Pasien ini harus diperiksa tanda vitalnya setiap 2–3 jam, termasuk pola suhu. Mereka juga harus dipantau volume asupan dan kehilangan cairannya, jumlah urin setiap 4–6 jam, tanda-tanda bahaya, tanda-tanda kebocoran plasma dan perdarahan, hematokrit setiap 4–8 jam, serta jumlah leukosit dan trombosit.
Pasien dengan syok harus dipantau sering hingga periode kritis berakhir. Tanda vital dan perfusi perifer harus diperiksa setiap 15–30 menit hingga pasien keluar dari syok, kemudian setiap 1–2 jam. Kateter arteri menetap dapat dipasang untuk pengukuran tekanan darah kontinu dan reprodusibel serta pengambilan sampel darah berkala karena pada keadaan syok, estimasi tekanan darah menggunakan manset biasanya tidak akurat.
Pasien dengan syok harus dipantau jumlah urinnya setiap jam hingga stabil lalu setiap 1–2 jam. Hematokrit harus dimonitor sebelum dan sesudah bolus cairan hingga pasien keluar dari syok lalu setiap 4–6 jam. Perubahan hematokrit harus ditafsirkan bersama dengan status hemodinamik, respons klinis terhadap terapi cairan, transfusi darah, dan keseimbangan asam-basa pasien. Gas darah arteri dan vena, laktat, total karbon dioksida atau bikarbonat harus diperiksa setiap 30 menit hingga 1 jam sampai stabil, lalu sesuai kebutuhan. Glukosa darah, profil ginjal, profil hati, dan profil koagulasi harus dimonitor bila memungkinkan sebelum resusitasi cairan, lalu sesuai kebutuhan.
Secara umum, pasien yang diberi laju infus cairan lebih tinggi harus dimonitor lebih sering untuk mencegah kelebihan cairan sekaligus memastikan penggantian volume yang memadai.
Tanda-tanda pemulihan pada pasien dengue meliputi tanda vital stabil, suhu normal, tidak ada perdarahan, tidak ada muntah, nafsu makan kembali, keluaran urin baik (0,5 mL/kg/jam), hematokrit stabil, dan ruam petekie konfluens pada masa konvalesen.
Pasien dapat dipulangkan dari rumah sakit bila terdapat perbaikan klinis yang nyata, bebas demam selama 48 jam, nafsu makan kembali, keluaran urin baik, hematokrit stabil tanpa cairan intravena, tren trombosit meningkat, dan tidak ada distres pernapasan.
Berikut adalah faktor risiko pada pasien dengan peningkatan kematian:
- Riwayat infeksi dengue sebelumnya
- Hipotensi
- Tekanan nadi sempit
- Perdarahan bermakna
- Kebocoran plasma berat
- Demam berdarah dengue derajat III dan IV
- Syok berkepanjangan
- Gagal napas, hati, atau ginjal
Komplikasi
Komplikasi Perdarahan
Risiko perdarahan meningkat pada pasien dengan salah satu dari berikut: hipotensi, tekanan nadi sempit, hepatomegali, jumlah trombosit <50.000/mm3, jumlah leukosit <5.000/mm3, atau ALT >3× nilai normal.
Pasien dengan perdarahan yang tetap stabil dengan penggantian cairan intravena dianggap mengalami perdarahan minor. Pasien yang mengalami syok berkepanjangan, syok hipotensif, gagal ginjal atau hati dan/atau asidosis metabolik berat, penyakit ulkus peptikum yang sudah ada, trauma, atau diberikan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau terapi antikoagulan berisiko tinggi mengalami perdarahan mayor.
Pasien dengan perdarahan berat adalah mereka dengan status hemodinamik tidak stabil disertai perdarahan berat yang nyata atau kadar hematokrit rendah bahkan setelah resusitasi cairan, syok refrakter yang tidak membaik dengan penggantian cairan berturut-turut 40–60 mL/kg, syok hipotensif dengan kadar hematokrit dasar rendah atau normal, atau mereka dengan perburukan asidosis metabolik khususnya yang dengan nyeri tekan dan distensi abdomen berat. Perdarahan mayor biasanya berasal dari saluran cerna. Mereka dengan kelainan hemolitik berisiko mengalami hemolisis akut dengan hemoglobinuria dan memerlukan transfusi darah.
Kelebihan Cairan
Kelebihan cairan merupakan penyebab umum distres dan gagal napas akut pada dengue berat. Kondisi ini biasanya sekunder terhadap cairan intravena yang berlebihan atau terlalu cepat, penggunaan yang salah atas larutan kristaloid, penggunaan tidak tepat volume besar cairan intravena pada pasien dengan perdarahan berat yang tidak dikenali, transfusi yang tidak tepat dari plasma beku segar atau konsentrat trombosit dan kriopresipitat, pemberian cairan intravena yang berlanjut meski kebocoran plasma telah teratasi, atau adanya komorbid seperti penyakit jantung bawaan atau iskemik, penyakit paru kronis, dan penyakit ginjal.
Pasien biasanya datang dengan napas cepat atau sesak, tarikan dinding dada, mengi, efusi pleura besar, asites tegang, peningkatan tekanan vena jugularis, edema paru, atau syok yang tidak dapat dipulihkan. Foto toraks, elektrokardiogram (EKG), gas darah arteri, ekokardiogram, dan enzim jantung dapat dilakukan. Pasien harus diberi oksigen dan cairan intravena harus dihentikan atau dikurangi bergantung pada fase penyakit dan status hemodinamik pasien.
Komplikasi Lain
Komplikasi lain dari dengue meliputi hiperglikemia atau hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit dan asam-basa, serta koinfeksi dan infeksi nosokomial.
