Demam Berdarah Dengue Management

Last updated: 20 July 2023

Evaluasi

Kriteria Perawatan di Rumah

Pasien dapat dipulangkan bila toleransi cairan oral adekuat, dengan produksi urin tiap 6 jam, dan tidak ada tanda bahaya (yaitu nyeri atau nyeri tekan abdomen, muntah persisten, akumulasi cairan klinis, perdarahan mukosa, letargi, gelisah, peningkatan ukuran hati > 2 cm, peningkatan hematokrit yang disertai penurunan jumlah trombosit), terutama selama fase defervescence.

Kriteria Rawat Inap

Kondisi Umum

Pasien harus dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit bila terdapat demam terus-menerus selama ≥ 3 hari; letargi, gelisah, iritabilitas, sangat lelah, mengantuk; flushing menyeluruh; sesak napas; dan tidak ada perbaikan atau terjadi perburukan kondisi.

Dehidrasi

Pasien yang tidak mampu mentoleransi asupan cairan oral atau mengalami muntah atau diare harus dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit.

Ketidaknyamanan Abdomen

Pasien dengan nyeri epigastrium atau hepatomegali nyeri tekan harus dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit.

Manifestasi Hemoragik

Pasien dengan uji tourniquet positif, petekie, ekimosis atau purpura, perdarahan mukosa spontan, epistaksis, perdarahan gastrointestinal, perdarahan menstruasi berlebihan, hematuria, atau trombositopenia (jumlah trombosit ≤ 100.000/mm3) harus dirawat di rumah sakit. Pasien dengan perdarahan aktif terlepas dari jumlah trombosit dan pasien tanpa kecenderungan perdarahan tetapi jumlah trombosit menurun cepat juga harus dirawat.

Kebocoran Plasma

Pasien dengan kenaikan hematokrit yang cepat, hematokrit ≥ 20% dari baseline, serositis (misal efusi pleura, asites), atau diduga kebocoran plasma (pria dengan hematokrit > 47% atau perempuan dengan hematokrit > 40%) harus dirawat di rumah sakit.

Kegagalan Sirkulasi atau Syok

Pasien dengan nadi cepat dan lemah; penyempitan tekanan nadi menjadi < 20 mmHg; hipotensi; kulit dingin, berbintik, atau pucat; ekstremitas dingin dengan sianosis perioral; perubahan status mental, gelisah, letargi; oliguria; takipnea akibat asidosis metabolik; atau gagal ginjal akut harus dirawat di rumah sakit.

Kriteria Terapi Gawat Darurat

Terapi gawat darurat harus diberikan bila terdapat kebocoran plasma berat yang dapat menyebabkan syok dan/atau akumulasi cairan dengan distres pernapasan; perdarahan berat; atau disfungsi organ berat (yaitu kerusakan hati, gangguan ginjal, kardiomiopati, ensefalopati, ensefalitis).

Prediktor Klinis Perdarahan

Berikut adalah prediktor klinis untuk perdarahan:

  • Hipotensi
  • Penyempitan tekanan nadi menjadi < 20 mmHg
  • Hepatosplenomegali atau hepatomegali
  • Trombositopenia berat (jumlah trombosit < 50.000/mm3)
  • Leukopenia
  • Peningkatan ALT serum (> 3× dibanding nilai normal)
  • Adanya muntah, nyeri perut, gelisah, efusi serosa, atau ruam

Terapi Farmakologis

Terapi Simptomatik

Antipiretik dan Analgesik

Contoh obat: Parasetamol (Acetaminophen), Metamizole (Dipyrone, Noramidopyrine)

Obat-obat ini membantu menjaga suhu tubuh di bawah 40°C dan meredakan nyeri tubuh. Diindikasikan untuk pasien dengan hiperpreksia khususnya mereka dengan riwayat kejang demam. Penting untuk menasihati pasien agar menghindari Aspirin dan salisilat lain yang dapat menyebabkan gastritis, perdarahan, dan asidosis. Anjurkan pasien untuk menghindari OAINS (obat antiinflamasi nonsteroid) juga karena selain berpotensi menyebabkan gastritis, perdarahan saluran cerna, dan asidosis, OAINS juga memiliki efek antiplatelet.

Sedatif

Berikan sedatif ringan pada pasien dengan nyeri berat. Perlu menenangkan pasien yang gelisah terutama anak-anak.

Nonfarmakologis

Terapi Suportif

Istirahat tirah baring dianjurkan selama fase demam akut demam dengue. Kompres hangat-suap (tepid sponging) dapat dilakukan untuk mempertahankan suhu tubuh di bawah 40°C.

Anjurkan pasien menjalani diet yang adekuat dan minum banyak cairan per oral untuk mencegah dehidrasi. Jus buah atau larutan pengganti elektrolit lebih disarankan dibanding air putih.

Tekankan perlunya memantau dehidrasi dan keberadaan tanda peringatan (misalnya nyeri perut berat, muntah persisten, ruam kulit, perdarahan dari hidung atau gusi, muntah darah, feses berwarna hitam, mengantuk atau mudah tersinggung, kulit pucat atau terasa dingin, dispnea) dan instruksikan pasien untuk segera ke rumah sakit terdekat.

Anjurkan pasien mencari tempat perindukan nyamuk di rumah dan menyingkirkannya.

Oksigen harus diberikan pada semua pasien dengan syok.


Terapi Penggantian Cairan

Cairan Intravena (IV)

Terapi penggantian volume yang tepat sangat penting pada pasien dengan kehilangan volume intravaskular atau dengan setidaknya satu tanda bahaya, serta untuk mencegah atau mengatasi syok hipovolemik.

Larutan kristaloid isotonik harus diberikan selama periode kritis. Larutan koloid hiperonkotik (misalnya Dekstran 40 10% dalam larutan salin normal, larutan pati) dapat diberikan pada pasien yang tidak responsif terhadap kristaloid atau yang mengalami kebocoran plasma masif. Volume dan laju terapi cairan intravena harus disesuaikan dengan volume dan laju kehilangan plasma. Untuk dehidrasi isotonik, glukosa 5% yang diencerkan 1:1 atau 1:2 dalam larutan salin normal harus digunakan.

Cairan intravena disesuaikan sepanjang periode kebocoran 24–48 jam dengan penilaian hematokrit secara serial serta penilaian tanda-tanda vital dan jumlah urine yang sering, untuk memastikan penggantian volume yang adekuat dan menghindari kelebihan hidrasi. Volume penggantian cairan harus minimal yang cukup untuk mempertahankan sirkulasi efektif selama periode kebocoran plasma yang terjadi pada fase konvalesen.

Penggantian cairan yang berlebihan dan melanjutkannya setelah kebocoran berhenti akan menyebabkan efusi pleura masif, asites, dan kongesti atau edema paru dengan sesak napas ketika reabsorpsi plasma yang terekstravasasi terjadi pada fase konvalesen. Durasi terapi intravena <60–72 jam untuk pasien tanpa syok dan <24–48 jam untuk mereka yang mengalami syok harus diterapkan.

Cairan yang diberikan untuk memperbaiki dehidrasi akibat demam tinggi, anoreksia, dan muntah dihitung berdasarkan derajat dehidrasi dan hilangnya elektrolit serta harus memiliki komposisi berikut: glukosa 5% dalam ½ atau â…“ larutan salin fisiologis.

Cairan intravena juga dapat diberikan di unit rehidrasi rawat jalan pada kasus ringan atau sedang ketika muntah menimbulkan atau mengancam menimbulkan dehidrasi atau asidosis atau ketika terjadi hemokonsentrasi.

Plasma atau pengembang plasma dapat dipertimbangkan pada pasien dengan syok persisten setelah resusitasi cairan awal.

Dengue_Management 2Dengue_Management 2

Larutan Rehidrasi Oral (LRO)

Salah satu contoh larutan rehidrasi oral adalah WHO ORS (90 mmol Na/L) di mana 1 L larutan mengandung 3.5 g natrium klorida (NaCl), 2.9 g trinatrium sitrat dihidrat, 1.5 g kalium klorida (KCl), dan 20 g glukosa; diberikan dengan perbandingan 2:1 antara WHO ORS dan air atau jus buah.

Cairan dalam jumlah banyak harus diberikan secara oral karena demam tinggi, anoreksia, dan muntah menyebabkan rasa haus dan dehidrasi.

Jumlah yang direkomendasikan untuk hidrasi intensif dengan larutan rehidrasi oral didasarkan pada berikut ini:

  • Dewasa: Hingga 3.000 mL/hari
  • Anak: rumus Holliday-Segar plus 5% (4 mL/kg/jam untuk 10 kg pertama berat badan; 2 mL/kg/jam untuk 10 kg berikutnya; 1 mL/kg/jam untuk setiap kilogram berat badan tambahan)

Transfusi Darah

Semua pasien dengan dengue berat harus dirawat di rumah sakit yang memiliki akses ke fasilitas perawatan intensif dan transfusi darah.

Transfusi darah hanya boleh diberikan pada kasus dengan perdarahan yang dicurigai atau berat. Darah utuh segar atau sel darah merah pekat segar lebih disarankan. Dapat diberikan 5–10 mL/kg sel darah merah pekat segar atau 10–20 mL/kg darah utuh segar. Pemantauan respons klinis sangat esensial.

Penurunan hematokrit yang disertai tanda vital tidak stabil (misalnya takikardia, penyempitan tekanan nadi, asidosis metabolik, jumlah urin yang sedikit) menunjukkan perdarahan mayor dan perlunya transfusi darah segera. Jangan menunggu hingga hematokrit turun terlalu rendah sebelum memulai transfusi darah. Namun, harus diberikan dengan hati-hati karena risiko kelebihan cairan.

Pertimbangkan pengulangan transfusi darah bila terjadi perdarahan lanjutan atau tidak ada kenaikan hematokrit yang semestinya setelah transfusi darah.

Bukti untuk mendukung penggunaan konsentrat trombosit dan/atau plasma beku segar pada perdarahan berat masih terbatas.