Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik harus dilakukan untuk menyingkirkan penyebab sekunder hipertensi, melakukan skrining terhadap komorbiditas, memberikan bukti adanya faktor risiko tambahan, dan mencatat terjadinya kerusakan organ target. Pemeriksaan laboratorium yang biasanya diminta meliputi darah lengkap, urinalisis, rasio albumin-kreatinin urin, rasio protein-kreatinin urin, uji fungsi ginjal termasuk laju filtrasi glomerulus estimasi (eGFR), gula darah puasa dan/atau HbA1c, profil lipid (setelah puasa 9 hingga 12 jam), kreatinin serum, kalsium serum, kalium dan natrium, asam urat serum, uji fungsi hati (LFT), thyroid-stimulating hormone (TSH), elektrokardiogram (EKG) 12-lead, serta ekokardiografi. Pemeriksaan juga dapat mencakup uji penanda biomarka jantung (cardiac biomarkers) dan kalsium arteri koroner.
Pencitraan
Evaluasi juga dapat mencakup ultrasonografi ginjal atau abdomen, ultrasonografi arteri karotis atau femoralis, ABI, computed tomography (CT) scan otak atau magnetic resonance imaging (MRI).
