Hipertensi Disease Background

Last updated: 10 June 2026

Pendahuluan

Hipertensi adalah istilah medis untuk tekanan darah (TD) tinggi.

Epidemiologi

WHO memperkirakan hipertensi terjadi pada 1,28 miliar orang dewasa berusia 30–79 tahun dan dua pertiga di antaranya tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sekitar 46% orang dewasa dengan hipertensi tidak menyadari bahwa mereka menderita hipertensi, sementara sekitar 42% orang dewasa dengan hipertensi terdiagnosis dan ditata laksana, dan hanya 21% (1 dari 5 orang dewasa) yang hipertensinya terkontrol. Perlu dicatat bahwa sekitar 5–25% orang dewasa dengan hipertensi memiliki penyebab sekunder.

Prevalensi hipertensi di Asia adalah sekitar 49,4% pada laki-laki dan 43,6% pada perempuan. Di Vietnam, prevalensi adalah 25,1% berdasarkan survei nasional 2001–2008 pada mereka yang berusia ≥25 tahun. Berdasarkan May Measurement Month, prevalensi hipertensi meningkat dengan angka prevalensi 28,7% pada 2017, 30,3% pada 2018, dan 33,8% pada 2019.

Hipertensi tetap menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara-negara ini. Meskipun tingkat kesadaran, pengobatan, dan pengendaliannya meningkat secara bertahap, angkanya masih tergolong rendah.

Patofisiologi

Hipertensi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan saraf dan kimiawi, perubahan kaliber serta elastisitas pembuluh darah, reaktivitas kardiovaskular, serta volume dan viskositas darah.

Pemeliharaan TD bersifat kompleks dan melibatkan beberapa mekanisme fisiologis termasuk baroreseptor arteri, sistem renin–angiotensin–aldosterone (RAAS), peptida natriuretik atrial, endotelin, serta steroid mineralokortikoid dan glukokortikoid, yang bersama-sama mengatur derajat vasokonstriksi atau vasodilatasi dalam sirkulasi sistemik, serta retensi air dan natrium untuk mempertahankan volume darah sirkulasi yang adekuat; disfungsi pada salah satu proses ini dapat memicu terjadinya hipertensi.

Aktivasi saraf simpatis memodulasi hipertensi dengan meningkatkan vasokonstriksi dan remodeling vaskular, memproduksi renin ginjal melalui reseptor beta-1 adrenergik di aparatus jukstaglomerulus, serta meningkatkan reabsorpsi natrium ginjal dan inflamasi. Mekanisme ginjal pada hipertensi utamanya melibatkan penurunan perfusi ginjal yang mengaktivasi RAAS, atau kerusakan struktural pada parenkim ginjal yang menyebabkan penurunan ekskresi natrium, sehingga memicu peningkatan volume intravaskular.

Etiologi

Faktor asupan makanan yang terkait dengan hipertensi meliputi asupan natrium yang tinggi; rendahnya asupan kalium, kalsium, atau magnesium; serta kurangnya konsumsi buah, sayur, protein nabati, atau serat, di samping asupan alkohol dan kafein. Sementara itu, faktor non-makanan meliputi berat badan berlebih (overweight) atau obesitas, rendahnya aktivitas fisik atau kebugaran, gangguan tidur, stresor psikososial, varian genetik, hingga polusi udara.

Terakhir, berbagai jenis obat juga dapat memicu hipertensi, termasuk dekongestan, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), asetaminofen, amfetamin, antidepresan, antipsikotik atipikal, imunosupresan, kontrasepsi oral, kortikosteroid sistemik, penghambat angiogenesis dan tirosin kinase, serta terapi deprivasi androgen atau antagonis reseptor androgen. Perlu dicatat pula bahwa penghentian obat secara mendadak seperti klonidin dan tizanidin, serta penggunaan obat rekreasional dan suplemen herbal, juga dapat menyebabkan terjadinya hipertensi.

Klasifikasi

Klasifikasi TD

Klasifikasi harus didasarkan pada rata-rata dari ≥2 pengukuran TD yang dilakukan secara benar dalam posisi duduk, pada masing-masing ≥2 kali kunjungan klinik. Berbagai pedoman konsensus telah tersedia sebagai referensi standar untuk definisi hipertensi.1

Klasifikasi TD Berdasarkan 2025
AHA/ACC/AANP/AAPA/ABC/ACCP/ACPM/AGS/AMA/ASPC/NMA/PCNA/SGIM*2
TDS (mmHg)
TDD (mmHg)
Normal <120 dan <80
Meningkat (Elevated) 120-129 dan <80
Hipertensi derajat 1 130-139 atau 80-89
Hipertensi derajat 2 ≥140 atau ≥90
Klasifikasi TD Berdasarkan 2024 ESC** TDS (mmHg)   TDD (mmHg)
Tidak meningkat (Non-elevated) <120 dan <70
Meningkat (Elevated) 120-139 dan/atau 70-89
Hipertensi ≥140 dan/atau ≥90
Hipertensi sistolik terisolasi (Isolated systolic hypertension [ISH]) ≥140 dan <90

1Rekomendasi dapat berbeda antar negara. Silakan merujuk ke pedoman yang tersedia dari otoritas kesehatan setempat.
2Orang dewasa dengan TDS dan TDD yang masuk ke dalam dua klasifikasi berbeda harus ditetapkan pada klasifikasi TD yang lebih tinggi.
*Referensi: 2025 American Heart Association (AHA)/American College of Cardiology (ACC)/American Association of Nurse Practitioners (AANP)/American Academy of Physician Associates (AAPA)/Association of Black Cardiologists (ABC)/American College of Clinical Pharmacy (ACCP)/American College of Preventive Medicine (ACPM)/American Geriatrics Society (AGS)/American Medical Association (AMA)/American Society of Preventive Cardiology (ASPC)/National Medical Association (NMA)/Preventive Cardiovascular Nurses Association (PCNA)/Society of General Internal Medicine (SGIM). Guideline for the prevention, detection, evaluation, and management of high blood pressure in adults.
**Referensi: 2024 European Society of Cardiology (ESC) Guidelines for the management of elevated blood pressure and hypertension.

Tahapan Hipertensi

Tahap 1: Hipertensi tanpa komplikasi (tanpa kerusakan organ target akibat hipertensi [hypertension-mediated organ damage/HMOD], diabetes, penyakit kardiovaskular yang sudah tegak, atau penyakit ginjal kronik [PGK] derajat/stadium ≥3)

Tahap 2: Adanya HMOD, diabetes, atau PGK derajat/stadium 3

Tahap 3: Adanya penyakit kardiovaskular yang sudah tegak atau PGK derajat/stadium 4 atau 5